KH. Ahmad Zainuddin (Guru Din) – Mendirikan Masjid Nurul Hidayah

Mendirikan Masjid Nurul Hidayah

pada tahun 1960-an masyakarat di sekitar Kalibata belum mempunyai Masjid yang ada hanya dua Masjid yaitu Masjid Syi’arul Islam (Guru Amin) yang sekarang dikenal dengan nama masjid Nashrumminallah dan Masjid Al-Fajri Kerobokan Pejaten. Pada tahun 1964-1965, pada saat itu dimulainya pembangunan komplek Cakra Birawa (Pomad), hal ini membuat masyakarat disekitarnya kesulitan bila ingin melaksanakan sholat Jum’at.

Akhirnya pada tahun 1968, KH. As’ad dengan melihat illat/kondisi yang ada mengusulkan untuk mengadakan sholat Jum’at. Usulan ini ditanggapi dan ditindak lanjuti oleh KH. Ahmad Zainuddin dengan mengutus KH. As’ad untuk menemui Habib Ali Al-Atas dalam rangka meminta fatwa dan pendapat beliau sehubungan akan diadakan sholat Jum’at Musholla tersebut. Dengan berbagai macam pertimbangan dan penelitian tentang boleh tidaknya kampong tersebut diadakan sholat Jum’at, akhirnya Habib Ali Al-Atas merestui dan mengizinkannya.

Diadalakanlah sholat Jum’at pertama kali pada tahun 1968 di Musholla yang saat itu bangunannya berada di sebelah barat Madrasah Unwanul Huda.

Sebagai peresmiannya maka KH. As’ad dan Ust. H. Muhayyar Hasby dengan menggunakan mobil Jeep, menjemput Habib Ali Al-Atas untuk menghadiri sholat Jum’at terebut dengan imam dan khotib oleh Ust. KH. Ahmad (Guru Amad).

Pada bulan Januari tahun 1969, ketika KH. Ahmad Zainuddin akan berangkat mengajar di Masjid Al-Fajri, H. Mathohir yang selalu mendampinginya mengusulkan untuk membangun masjid, usulan tersebut didukung oleh Ust. KH. Ahmad (Guru Amad).

Dimulailah pembangunan Masjid Nurul Hidayah di atas tanah waqaf pemberian H. Aseni, H. Yazid dan gotong royong/amal jariyah sebagian masyarakat.

Komentar

komentar

Please follow and like us:

Leave a Comment