KH. Ahmad Zainuddin (Guru Din) – Mengajar dan mendirikan Madrasah

Mengajar dan mendirikan Madrasah

Pada tahun 1935 KH. Ahmad Zainuddin mulai memberikan pengajaran kepada masyarakat sekitarnya. System pengajaran pada saat itu sangatlah sederhana, beliau duduk bersila dengan meja pendek (lekar) sementara murid-murid beliau duduk mengelilinginya dengan mendengarkan dan menyimak apa yang beliau sampaikan.

Pelajaran pada saat itu berkisar mengenai sifat dua puluh, fiqh, akhlak dan nahwu sharf dengan menggunakan kitab kuning.

Tempat yang digunakan untuk belajar pada saat itu adalah sebelah barat dari rumah kediamannya sekarang atau di rumah kediaman Ust. H. M. Yazid sekarang, kemudian mengalami perpindahan beberapa kali hingga pada akhirnya menempati lahan yang sekarang didirikan Madrasah Unwanul Huda yuang pada saat itu terkenal dengan sebutan Madrasah Guru Din.

Dalam mengajar di Madrasah tersebut KH. Ahmad Zainuddin dibantu oleh Ust. KH. Ahmad Muhayyar, Ust. H. Mushonif, Ust. H. Sayuti dan Ust. H. Hatamin.

Pada tahun 1948 – 1949 beliau sempat menjadi pegawai negeri Kantor Urusan Agama sebagai Naib bersama dengan KH. Muhammad Amin (Guru Amin)

Beliau berhenti sebagai pegawai negeri bersamaan dengan pindahnya kantor tersebut ke daerah Bekasi di samping ada persyaratan bahwa pegawai negeri harus menggunakan celana panjang, sementara beliau dalam kegiatan sehari-hari selalu menggunakan kain sarung.

Pada tahun 1950, KH. Ahmad Zainuddin mulai mengajar di langgar-langgar, antara lain Langgar Guru Din yang pada saat itu lokasinya berada di sebelah barat Madrasah Unwanul Huda, Langgar Guru Ijo (Al-Ikhlas), LOanggar H. Saimi/H. Ilyas, Langgar Duren (Al-Barkah), Langgar Al-Muqarrobin dan Masjid Al-Fajri. Pada saat itu Jakarta masih gelap, beccek penuh dengan rawa dan semak belukar, penerangan untuk mengaji dan belajar di Mushola-mushola pada saat itu hanya menggunakan lampu cempor.

Perjalanan untu menuju Musholla pada malam hari hanya menggunakan obor, colen atau baterai senter bagi yang punya, walaupun demikian semangat belajar dan mengajar tak pernah padam. Dari sinilah cikal bakal pengajian Musholla-musholla dan di Masjid-masjid yang disampaaikan oleh beliau dalam mengembangkan ilmu agama.

 

Komentar

komentar

Please follow and like us:

Leave a Comment