PERINGATAN MAULID NABI BESAR MUHAMMAD SAW 1437 H

Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid Nurul Hidayah Kalibata, yang Insya Allah akan di selenggarakan pada :

Hari                :  Selasa Malam Rabu

Tanggal          :  02 Februari              2016 M

                              23 Rabiul Akhir      1437 H

J  a  m             :  19.30 WIB (Ba’da Sholat Isya Berjama’ah)

Tempat          :  Masjid Nurul  Hidayah

Jl. Warung Jati Timur Rt. 007/04 No. 25A

Kel. Kalibata Kec. Pancoran Jakarta Selatan

Penceramah :  KH. Abdul Rosyid Abd. Syafi’i

Al-habib Nabiel bin Ahmad Syauqi bin Syaikho al-Qodri

KH. Dr. Luthfi Fathullah, MA

Untuk itu kami atas nama panitia mengundang para kaum muslimin untuk dapat ikut menghadiri dan mensyiarkan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1437 H di Masjid Jami’ Nurul Hidayah Kalibata.

Profil Singkat Penceramah :


KH. Abdul Rosyid Abd. Syafi’i


K.H Abdul Rasyid Abdullah Syafi’ie adalah seorang Ulama dan Mubaligh dari suku Betawi.
K.H Abdul Rasyid Abdullah Syafi’ie adalah seorang Ulama dan Mubaligh dari suku Betawi.

Profile KH. Abdul Rosyid Abd. Syafi’i

K.H Abdul Rasyid Abdullah Syafi’ie adalah seorang Ulama dan Mubaligh dari suku Betawi, Beliau adalah putra dari KH Abdullah Syafi’ie yang wafat pada tanggal 3 september 1985, mulai dari generasi KH Abdullah Syafi’ie sampai dengan putranya K.H Abdul Rasyid Abdullah Syafi’ie, banyak sekali orang-orang betawi mengenal beliau, bahkan tidak menutup kemungkinan orang-orang dari suku lain pun mengenal figur beliau yang Arif dan bijaksana dalam menyiarkan agama Islam.

K.H Abdul Rasyid Abdullah Syafi’ie adalah seorang pendiri Pondok Pesantren Al-Qur’an As-syafi’iyah yang berada di daerah Pulo Air Sukabumi. Sesuai dengan namanya Pondok Pesantren ini juga telah banyak mewisudakan santri-santrinya yang hapal Qur’an, dan bahkan adanya juga santri-santri beliau yang mendapatkan hadiah dengan dinaik hajikan oleh Menteri Agama pada Kabinet Reformasi dan Menteri Pendidikan Nasional pada Kabinet Gotong-Royong, yang pada saat itu masih dijabat oleh Prof. Dr. Abdul Malik Fadjar
Dalam mendidik santrinya beliau membagi-bagi santrinya kedalam program-program pendidikan yang di seuaikan dengan kurikulumnya, ada yang di khususkan untuk menghapal Al-Quran (Tahfidz), ada yang mengikuti Program Takhasus atau program pendidikan dengan menggunakan Kitab Kuning, Ada juga yang mengikuti program biasa atau mempelajari agamanya dengan menggunakan buku-buku dari Departemen Pendidikan khususnya pendidikan agama. itu semua disesuaikan berdasarkan kemampuan para santrinya didalam mengkaji ilmu pelajaran.

Konon menurut santri-santri yang pernah mendalami ilmu agama pada beliau, bahwasannya beliau juga pernah berguru kepada Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yaitu ulama besar yang ada di daerah lombok NTB. karenanya banyak sekali Ustadz / Ustadzah yang mengajar di salah satu pondok pesantrennya yang berada di Sukabumi, tepatnya pesantren Al-Quran As-Syafiiyah Pulo Air Sukabumi berasal dari lombok, dan Ustadz / Ustadzah yang mengajar di sana pun mayoritas lulusan dari pondok pesantrennya Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Pancor Lombok Timur NTB.

sumber : https://jayexplored.wordpress.com


Al-habib Nabiel bin Ahmad Syauqi bin Syaikho al-Qodri


Al-habib Nabiel bin Ahmad Syaqi bin Syaikho al-Qodri

Profile Al-Habib Nabiel bin Syauqi Al-Qodri

“Tanpa seorang pendidik, murid tidak akan tahu apa-apa. Saya tahu Rabb saya karena ada seorang murabbi, pendidik. Kalau pengajar, banyak sekali. Tapi pendidik, langka.”

Muda usianya tapi dalam ilmunya. Itulah kesan yang melekat pada diri Habib Nabiel Syauqi Al-Qadri, pengasuh Majelis Ta’lim dan Shalawat Hayyun Fii Qulubinaa. Pribadinya ramah dan komunikatif, riang dan terbuka, bersikap selalu rendah hati dan membuat lawan bicaranya betah berkomunikasi dengannya.

Di daerah Larangan, Cileduk, Jakarta Selatan, khususnya, dan Jakarta Barat umumnya, nama Habib Nabiel sudah tidak asing lagi. Sekarang majelisnya sudah menyebar ke berbagai tempat se-hingga sudah mempunyai tiga belas korwil.

Ia lahir dan dibesarkan di daerah Larangan, Cileduk, 28 tahun yang lalu, dari keluarga yang mencintai pendidikan. Ayahnya, Ustadz Syauqi, adalah direktur Jamiat Kheir. Dari kecil, ia sudah mendapat arahan dan bimbingan dalam hal agama, jenjang pendidikannya pun tidak terlepas dari pesantren dan sekolah agama. Sebelum mondok di Pondok Pesantren Darul Lughah wad Da’wah, Bangil, Jawa Timur, ia menjadi santri di Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, Jawa Barat.

Selepas dari Bangil, Habib Nabiel melanjutkan menuntut ilmu ke Darul Musthafa, Hadhramaut, di bawah bimbingan Habib Umar Bin Hafidz. Di Hadhramaut, Habib Nabiel banyak sekali mendapatkan bimbingan, ilmu, dan teladan dari Habib Umar Bin Hafidz, juga dari Habib Ali Al-Jufri, karena ia sempat menjadi pembantu (khadim) Habib Ali Al-Jufri.

Setelah menuntut ilmu selama empat tahun di Darul Musthafa, Habib Nabiel kembali ke tanah air pada tahun 2007. Ia menginformasikan bahwa di Darul Musthafa sekarang sudah ada gelar “Lc” untuk alumninya. Ini berawal dari keprihatinan Habib Umar Bin Hafidz terhadap para alumnus Darul Musthafa yang berasal dari beberapa negara. Setelah menuntut ilmu sekian lama di Hadhramaut, hanya untuk mendapat gelar mampir sebentar ke Mesir. Untuk itulah, sekarang ada gelar.

Habib Nabiel mengakui, abahnya sangat berperan memberikan nasihat, dorongan, dan masukan tanpa lelah. Abahnya mendorongnya memperkenalkan diri kepada masyarakat setelah pulang ke tanah air. “Hadiri terus majelis ta’lim, jaga hubungan dengan masyarakat, perkenalkan diri dengan santun, jangan dengan cara memaksakan diri, atau mengatakan ‘Ini lho ana’,” ujarnya menirukan nasihat abahnya.

Habib Nabiel pun menghadiri ta’lim di Majelis Rasulullah, pimpinan Habib Munzir Al-Musawa. Ia sempat deg-degan saat hadir pertama kali melihat jama’ah yang demikian banyak. Ia diberi tempat oleh seniornya, Habib Munzir, dan disambut dengan sangat baik. Saat itu Habib Munzir mengatakan kepadanya agar pekan selanjutnya ia mengisi taushiyah.

Waktu pun berjalan seiring semakin banyak ta’lim yang diisinya, di Menteng Dalam. Atas arahan K.H. Abdurrahman Nawi, ia pun mendirikan majelis ta’lim dan shalawat yang oleh abahnya diusulkan namanya “Hayyun fii Qulubinaa”, hidup di dalam qalbu. Beberapa waktu kemudian ketika Habib Ali Al-Jufri berkunjung ke Indonesia, nama tersebut diresmikan.
Di majelisnya, selain shalawat, pembacaan Maulid, ada juga pembacaan hizb (doa-doa perlindungan) Bin Sahil, lalu kitab-kitab fiqih, Riyadhus Shalihin, tafsir, tauhid, dan taushiyah. Hampir semua ta’lim berlangsung malam hari, kecuali untuk ibu-ibu, berlangsung siang hari, di beberapa tempat.

Berbicara tentang dakwah, Habib Nabiel membaginya menjadi dua hal pokok, yaitu tantangan internal dan eksternal. Tantangan internal berawal dari kepribadian sang dai. Menurutnya yang paling berat adalah popularitas. “Kadang pendakwah disambut seperti artis, maka kalau tidak hati-hati akan timbul sikap ujub. Ingat, dakwah bukan tontonan, melainkan tuntunan. Dakwah juga bukan bisnis. Adalah penilaian yang keliru bahwa keberhasilan pendakwah itu dari mobilnya, dari tempat tinggalnya…. Sekali lagi, dakwah bukan ladang bisnis. Jika ada pendakwah yang sampai memasang tarif, itu sungguh memprihatinkan. Ingat dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dan ingat pula bagaimana jatuh-bangunnya beliau dalam berdakwah, lalu siksaan yang beliau terima. Benar Rasulullah SAW menerima hadiah, tapi beliau tidak pernah meminta. Jadi para pendakwah harus meneladani Rasulullah SAW,” kata Habib Nabiel.

Ia mengingatkan, sebisa mungkin pendakwah mempunyai nafkah sesuai kemampuan. Di Hadhramaut, menurutnya, para pengajar dan pendakwah menafkahi keluarga mereka dengan berdagang. “Malah ada seorang pengajar yang begitu disegani, mungkin setingkat profesor, kalau tidak mengajar atau tidak berdakwah mengisi hari-harinya dengan berjualan minyak wangi, kitab, sesuai kemampuannya,” ujar Habib Nabiel mencontohkan.

Yang paling penting menurutnya adalah ikhtiar. Soal hasil, itu urusan Allah SWT. Begitu pentingnya ikhtiar, Allah SWT sudah memerintahkan kepada Siti Maryam untuk berikhtiar ketika ia baru saja habis melahirkan Nabi Isa AS. Seperti dikisahkan di dalam Al-Qur’an, Siti Maryam diperintahkan mengguncang-guncang pohon kurma agar buahnya berjatuhan untuk dijadikan makanan. Siti Maryam pun mengguncang-guncang pohon kurma tersebut, maka hasilnya berjatuhanlah kurma, yang dijadikan santapan setelah ia melahirkan. “Begitulah, demikian pentingnya ikhtiar,” kata Habib Nabiel dengan suara mantap.

Sedangkan tantangan eksternal menurutnya adalah kemampuan berdakwah yang harus mempunyai wawasan luas sehingga ketika meyakinkan pihak yang tidak sependapat akan terucap dari mulut mereka bahwa kita mempunyai kedalaman ilmu. “Jadi bukan kita yang memaksakan orang lain mengakui kita, tapi orang lainlah yang dengan tulus mengakuinya,” ujarnya.

Ada kebiasaan unik yang dilakukannya sebagai bentuk sikap tawadhu’ kepada orangtuanya, yaitu selalu minta air minum yang telah dicicipi dulu oleh orangtuanya. Air tersebut telah didoai, dan doa orangtua adalah kekuatan dahsyat yang luar biasa.

sumber : pecintahabibana.wordpress.com


 KH. Dr. Luthfi Fathullah, MA


KH DR LUTFI FATHULLAH MA PENCERAMAH MAULID NABI BESAR MUHAMMAD SAW 1437 H/2016 M MASJID JAMI' NURUL HIDAYAH KALIBATA
KH DR LUTFI FATHULLAH MA – PENCERAMAH MAULID NABI BESAR MUHAMMAD SAW 1437 H/2016 M MASJID JAMI’ NURUL HIDAYAH KALIBATA

Profile KH. DR Ahmad Luthfi Fathullah, MA

Doktor ilmu hadits putera Betawi asli ini merupakan murid langsung dari Syaikh Ramadhan Al-Buthi dan Wahbah Az-Zuhayli. Keturunan dari Guru besar di bilangan Kuningan Jakarta, almarhum Guru Mughni.

Beliau sudah menulis 26 judul buku, tapi yang dicetak baru 24 kitab. Sedangkan yang khusus terkait dengan hadits adalah rumus-rumus rijal hadits, ada juga tentang hadits keutamaan Al-Quran, hadits pahala dan keutaman hajim umrah, ziarah.

Nama: Ahmad Lutfi Fathullah 

Tempat tanggal Lahir: Kuningan Jakarta, 25 Maret 1964.
Putra Betawi asli yang merupakan salah satu cucu Guru Mughni, seorang tokoh ulama Betawi kenamaan di era akhir 1800 dan awal 1900-an.

Beristrikan Jehan Azhari, dan sudah dikaruniai 3 orang anak :
1. Hanin Fathullah
2. Muhammad Hadi Fathullah
3. Rahaf Fathullah

A. Pendidikan

  • SDN 01 Kuningan Timur Jakarta
  • Pondok Modern Gontor Ponorogo
  • Damascus University (S1)
  • Jordan University (S2)
  • University Kebangsaan Malaysia (S3)

B. Guru-guru

Di antara guru-guru yang pernah mengajar baik formal maupun non-formal antara lain :

  1. KH. Imam Zarkasyi
  2. Prof. DR. Syeikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi
  3. Prof. DR. Syeikh Nuruddin ‘Itr
  4. Prof. DR. Syeikh Mustafa Diib al-Bugha
  5. Prof. DR. Syeikh Wahbah al-Zuhaily
  6. Prof. DR. Syeikh Hammam Abdurrahim Sa’id
  7. Prof. DR. Muhammad al-Zuhaily
  8. Syeikh Husein al-Khattab
  9. Syeikh Abdul Qadir al-Arna’ut
  10. Syeikh Syu’aib al-Arna’ut

C. Aktifitas Akademis

Dosen Pascasarjana pada :

  • Universitas Indonesia
  • Universitas Islam Negeri Jakarta
  • Universitas Islam Negeri Bandung
  • Universitas Muhammadiyah Jakarta
  • Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta
  • Program Interdiciplyneri Islamic Studies Mc Gill Canada – UIN Jakarta
  • Universitas Islam Ibnu Khaldun Bogor
  • Universitas al-Aqidah, Jakarta
  • University Kebangsaan Malaysia, Bangi Slangor (Dosen Penguji tesis/disertasi)

Dosen pada :

  • Fak. Ushuluddin UIN Jakarta
  • Fak. Ushuluddin UIN Bandung
  • Fak. Ushuluddin IIQ Jakarta
  • Pendidikan Muballigh al-Azhar Jakarta
  • Pendidikan Kader Ulama’ Pondok Modern Gondor

Aktifitas lain:

  • Guru SD/SMPIT al-Mughni Jakarta
  • Direktur Perguruan Islam al-Mughni Jakarta
  • Pembimbing ibadah haji PT Dian Nusa Insani Jakarta

D. Majlis Ta’lim

Mengajar di Beberapa Majlis Ta’lim secara rutin dan kerap di :

  • Majlis Ta’lim Al-Bahtsi wa al-Tahqiq al-Salam, Jakarta
  • Masjid Baitul Mughni, Jakarta
  • Masjid al-Tin, Jakarta
  • Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta
  • Masjid Baitus Salam, Gedung BIP Jakarta
  • Majlis Ta’lim al-Sa’adah, Ciputat
  • Masjid al-Hijrah, Jakarta
  • Masjid Shalahuddin, Kalibata, Jakarta
  • Masjid al-Musyawarah, Kelapa Gading Jakarta
  • Pusat Islam Bogor

 

Komentar

komentar

Please follow and like us:

Leave a Comment