Sholat Juhur setelah sholat jumat

1696 views
0

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Saya salah satu tamu yang sering sholat jumat di masjid nurul hidayah warung jati, kebetulan saya bekerja tidak jauh dari masjid, sebelumnya saya apresiasi sekali terhadap masjid nurul hidayah yang sudah ada websitenya apalagi ada halaman diskusinya untuk para pembaca setia masjid nurul hidayah online.

dari sekian banyak pertanyaan, mungkin salah satunya saya ingin menanyakan seputar sholat juhur setelah sholat jumat yang diadakan rutin di masjid nurul hidayah. pertanyaan ini bukan karena ada hal apapun, tapi karena saya masih awam dan rasa penasaran ingin mengetahuinya lebih jauh landasan dasar keilmuannya sebagai wawasan keilmuan saja untuk saya dan yang membacanya, juga barangkali agar dapat bisa saya amalkan. berikut pertanyaan saya :

  1. Landasan dasar untuk diadakan sholat juhur setelah sholat jumat?
  2. Apakah pernah jaman Rasulullah dan para sahabat juga para ulama2 terdahulu melakukan sholat juhur setelah sholat jumat?
  3. kenapa di masjid pada umumnya tidak mengadakan sholat juhur setelah sholat jumat seperti yang diadakan di masjid nurul hidayah?

Mungkin itu saja pertanyaan dari saya untuk admin juga para Kyai/Ustdi masjid nurul hidayah, semoga yang bersangkutan dapat menjawab di halam diskusi ini dan menjelaskannya, dan semoga para kyai/ust selalu diberikan kesehatan dalam membimbing kita untuk menuju jalan yang diridhai Allah SWT. Aamin

Wassalam

0

wah pertnyaan yg slama ni jg sya mau tanyakan juga, selama sy sholat jumat di masjid nurul hidayah,..

dikampung saya aceh besar, juga mendirikan sholat juhur setelah sholat jumat yang disbut i’adah,..bahkan saat ini informasi dari adik saya bahwa iadah ini di wajibkan sehingga ada  beberapa kelompok/jamaah yang tidak mau shalat/menjdi khatib di mesjid yang tidak melakukan iadah dhuhur. tapi di kampung lain seperti bireun dan pidie malah sngt jarang saya jumpai masjid yang mendirikannya.

begitu juga dijakarta selama saya tinggal di wilayah jakarta mungkin sy bru alami di masjd nurul hidayah, kebetulan sya ngontrak di sekitar masjid ini, dan juga jarang saya temukan di masjid2 lain.

dari prtnyaan bodoh saya sbgai orng fakir dalam agama, apakah ini bertanda ada perbedaan tingkatan kealiman terhadap ulama2 di setiap masjid yang dipimpinnya, kealiman untuk mendirikannya atau kealiman untuk tidak mendirikannya?

0

Wa’alaikumussalam wr wb.

Menanggapi pertanyaan mengenai i’adah zhuhur setelah sholat jum’at yg dilaksanakan di masjid nurul hidayah. Baiknya saya yg faqir akan ilmu ini mencoba menguraikan terlebih dahulu akan syarat-syarat wajib dan syarat-syarat sah ibadah jum’at

Adapun Syarat-Syarat Wajib Jum’at adalah

1. Islam

2. Baligh

3. Berakal

4. Laki-laki

5. Merdeka (bukan hamba sahaya)

6. Bermuqim (tidak dalam keadaan musafir)

7. Tidak dalam keadaan ‘uzur (‘uzur Jum’at adalah ‘uzur dalam jama’ah)

Catatan: Orang yang tidak wajib melaksanakan shalat Jumat, harus melaksanakan shalat dhuhur sebagai gantinya. Namun, apabila mereka ikut shalat Jum’at dengan menjalankan rukun serta syarat sahnya, maka shalatnya sah sebagai ganti dhuhur

Syarat –Syarat Sah Jum’at

1. Dalam waktu dhuhur

2. Dilakukan dalam kawasan yang ada perumahan yang sifatnya tidak sementara

3. Tidak didahului Jum’at lain dalam kawasan tersebut, karena tidak boleh ada dua Jum’at atau lebih dalam satu kawasan kecuali karena kesukaran

4. Berjama’ah

5. Jum’at itu didirikan oleh empat puluh laki-laki baligh berakal, merdeka dan menetap di suatu kawasan (mustauthin) tidak ada cita-cita untuk berpindah ketempat dalam keadaan apapun kecuali karena dharurat.

6. Dua khutbah sebelum shalat.

Adapun i’adah dzuhur setelah jum’at ini ada yg sunnah dan ada yg menjadikannya wajib, menurut kitab-kitab fiqh syafi’iyah yang pernah kami pelajari dan ditelaah secara terperinci, I’adah dhuhur dilakukan karena bilangan jum’at, yaitu 40 orang yang sah menjadi bilangan jum’at tidak terpenuhi dalam sebuah pemukiman, sehingga sebagai solusinya (supaya Jum’at tidak kosong pada suatu pemukiman), sebagian ulama bertaqlid kepada qaul qadim imam Syafi’i yang mengatakan sah jum’at dengan 4 orang. karena qaul qadim tersebut merupakan pendapat yang lemah dalam Mazhab Syafi’i, sebagai sikap kehati-hatian maka disunnatkan i’adah dhuhur, karena kekewatiran shalat jum’at tersebut tidak sah.

I’adah zhuhur menjadi wajib ketika terjadi ta’adud jumat (ada dua jum’at atau lebih dalam suatu kampung),sebagai contoh bahwa masjid Nurul Hidayah berdekatan dan satu kampung bahkan satu RW dengan masjid al-hairiyah samali… jg berdekatan dengan masjid al-huda dan al-huda berdekatan dengan attaqwa, hal ini sudah keluar dari syarat sah jumat, bila sudah terjadi fenomena seperti ini, siapakah yg bisa menjamin bahwa jamaah jum’at mereka lah yang pertama atau lebih dahulu melakukan takbiratul ihram dari masjid-masjid yang berdekatan dalam satu kampung tersebut ? Sedangkan yang sah hanyalah yang  takbiratul ihram shalatnya lebih dahulu. Adapun bagi mereka yg ragu2 mana yang takbiratul ihramnya lebih dahulu, atau bahkan takbiratul ihramnya datang secara bersamaan maka diwajibkan pula atasnya melaksanakan i’adah dzuhur setelah sholat jum’at baik dilaksanakan dimasjid ataupun dirumah, secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah

Diantara ulama syafi’iyah yang mengatakan adanya i’adah dhuhur adalah Ali syibran al-Malusi, Syams al-Ramli, disyariatkan karena ihtiyath (hati2), menghilangkan syubhat, berdasarkan hadits :

فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه

Artinya : Barang siapa menjauhkah syubhat, maka dia telah memelihara agama dan kehormatannya (H.R. Bukhari dan Muslim)

dan hadits Nabi SAW, berbunyi :

دع ما يريبك إلى ما لا يريبك

Artinya: Tinggalkan hal-hal yang meragukan engkau kepada yang tidak meragukan (H.R. Nisa’i dan Turmidzi)

pembahasan yang lebih luas mengenai i’adah dhuhur dapat dilihat dalam kitab Tanwirul qulub Hal. 184-195 dan kitab I’anah Thalibin juz. II, hal. 59 dan dapat juga dibaca dalam bughyatul mustarsyidin 80-81.

0

Pada zaman Rasulullah saw memang tidak pernah melakukan i’adah dzuhur setelah sholat jumat dikarenakan jum’at pada masa Nabi SAW dan Khulafaurrasyidin tidak pernah dilakukan kecuali pada satu tempat dari pada suatu balad. Meskipun belum pernah diadakan i’adah dzuhur ini pada masa Rasulullah saw dan Khulafaurrasyidin pada masa itu, namun puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun yg lalu ulama-ulama terdahulu telah membicarakan masalah i’adah dzuhur ini dalam kitab-kitab fiqih klasik mereka. Adapun pada masa sekarang ini telah banyak kita jumpai beberapa masjid didalam satu kampung/wilayah yg mengadakan jum’at, maka dari itu di sunnahkan/diwajibkanlah i’adah dzuhur setelah sholat jum’at.

(An-Nawawi dan Jalaluddin al-Mahalli, Minhaj at-Thalibin dan Syarahnya, al-Mahalli, dicetak pada hamisy Qalyubi wa ‘Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 272)

 

Memang tidak semua masjid mengadakan i’adah zhuhur setelah jum’at, dikarenakan permasalahan ini adalah khilafiyah antara para guru pengajar dalam memahami fiqih tentang Jum’at. Adapun masjid-masjid  yg melaksanakan i’adah zhuhur setelah sholat jum’at, disebabkan karena sifat kehati-hatian dalam melaksanakan ibadah khususnya ibadah mahdhoh seperti sholat jum’at ini.

Jadi menurut hemat kami, setelah ditelaah dengan lebih terperinci melalui kitab-kitab fiqih klasik syafi’iyah, sahnya sholat jum’at bukan hanya dilihat secara kasat mata seperti telah dilaksanakannya di masjid, didirikan oleh “40 orang”, serta telah dilaksanakannya dua khutbah,tapi dibalik itu dikhawatirkan ada syarat-syarat sah jum’at yg cacat atau tidak terpenuhi seperti yg telah diuraikan diatas sehingga menyebabkan ibadah jum’at menjadi nol atau tidak sah, maka dari itu Masjid Nurul Hidayah mengadakan i’adah dzuhur sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjalankan syariat dan beribadah kepada Allah swt.

Wallahu a’laam bissawab.

 

Itulah sedikit penjelasan dari alfaqir, mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya, semoga bermanfaat bagi kita semua guna menambah wawasan serta keilmuan kita dalam mempelajari ilmu Allah swt yg luasnya melebihi langit dan bumi dan semoga kita selalu dalam Rahmat serta Taufiq dan Hidayah Allah swt. Aamin yaa Rabbal aalaminn…

 

Wassalaam…

Question and answer is powered by AnsPress.io