REFLEKSI TAHUN BARU – MENYADARKAN MANUSIA AKAN WAKTU YANG BERPUTAR

الحمد لله ,  الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ()  و نعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ()  من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له () وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لانبي بعده () اللهم صل و سلم على سيدنا محمد وعلى أله و صحبه أجمعين () أما بعد ,  فيا عبادالله إ تقواالله فقد فاز المتقون ()

* Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Di hari yang mulia ini, marilah sama-sama kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah swt, yakni dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhkan segala larangan-Nya.

Detik-detik pergantian tahun 2015 menuju 2016 menyadarkan manusia akan waktu yang berputar. Waktu berjalan secara alamiah dan tak pernah terulang kembali. Setiap orang mempunyai kesempatan dan waktu yang sama namun cara menggunakannya yang berbeda-beda, sehingga membedakan kualitas hidupnya.

Kualitas hidup manusia tergantung pada efektifitas penggunaan waktu, bukan seberapa lama dia dalam menjalani waktu. Umur umat Nabi saw terpendek dalam sejarah umat manusia sekitar 60-an atau 70-an tahun, tetapi menjadi umat yang terbaik (khaira ummah) dibanding umat nabi-nabi
terdahulu yang hidup panjang, ratusan tahun.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Q.S. Alu ‘Imrân/3:110).

Umat Nabi Muhammad saw diberi barakah sehingga hidup yang singkat dapat dilipatgandakan kualitasnya melebihi hidup dalam waktu. Allah SWT telah mengingatkan betapa pentingnya waktu melalui sumpah-Nya. Dalam al-Qur’an terdapat empat surat yang diberi nama oleh Allah dengan nama waktu, yaitu surat al-Fajr (waktu fajar) surat ke-89, surat al-Dhuha (waktu duhâ) surat ke-93, surat al-‘Asr (waktu ‘asr) surat ke-103, dan surat  al-Lail (waktu malam) surat ke-92. Di dalam empat surat tersebut ditunjukkan siklus kehidupan dan penggunaan waktu yang efektif.

Pertama, Allah bersumpah dengan al-fajr (waktu fajar), Allah mengaitkan pembicarannya dengan akal dan proses berfikir.

وَالْفَجْرِ () وَلَيَالٍ عَشْرٍ () وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ () وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ () هَلْ فِي ذَلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ

Demi fajar. Dan malam yang sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil. Dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal. (Q.S. al-Fajr/89: 1-5).

Sebuah isyarat, bahwa waktu fajar semestinya dipergunakan manusia untuk berfikir, persiapan, perencanaan sebelum melakukan pekerjaan. Waktu fajar juga berarti waktu kecil dan waktu muda manusia, yang semestinya dipergunakan untuk menimba ilmu, mencari bekal dan persiapan untuk menghadapi perjuangan hidup di kala dewasa.

Kedua, Allah bersumpah dengan waktu duhâ (surat ke-93), maka pembicaraan Allah terkait dengan amal dan tuntutan kepada manusia untuk berbuat. Duhâ berarti cahaya yang ditunggu semua makhluk, baik bagi manusia, hewan maupan tumbuhan. Disebutkan dalam ayat 9-11 :

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ () وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ () وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ()

Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (Q.S. al-Duhâ/93:9-11).

Ayat di atas memberikan isyarat bahwa waktu dhuha untuk berbuat dan memperlihatkan bakti kepada orang lain dan lingkungan. Tentunya yang demikian adalah orang yang di waktu dhuha bekerja keras untuk kehidupan dirinya dan orang lain.  Merupakan sunnatullah, bahwa orang yang memiliki kecukupan dengan kerja kerasnya jika berderma akan dapat meringankan orang lain. Sebab, hanya orang yang memiliki yang dapat memberi. Orang yang tak punya tidak akan dapat memberi.

Ketiga, Allah bersumpah dengan al-‘asr (waktu sore) surat ke-103), Allah mengaitkan pembicaraan-Nya dengan kerugian dan penyesalan manusia. Sepertinya dalam Q.S. al-‘Ashr ayat 1-2:

وَالْعَصْرِ () إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ () إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ()

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. al-‘Asr/103:1-3).

Ayat di atas memberikan isyarat, bahwa yang tidak melakukan persiapan di waktu fajar, yang tidak bekerja pada waktu dhuha dan siang, yang tidak belajar di waktu kecil, dan yang tidak membuat di waktu muda, maka di waktu tua dia akan menyesal dan menjadi orang yang merugi. Kerugian baru dirasakan seseorang ketika sudah memasuki usia senja. Akan tetapi, saat itu kondisi sudah tidak dapat diulang dan diperbaiki selain penyesalan dan meratapi diri.

Keempat, Allah bersumpah dengan waktu malam (al-lail) surat 92, Allah swt mengaitkan pembicaraan-Nya dengan dua kondisi; Pertama, kesusahan dan kesulitan (al-‘usr, ayat 10), serta neraka yang menyala (nâran talazhzhâ, ayat 14). Kedua, kemudahan dan ketenangan (al-yusr, ayat 7), dan puncak kebahagiaan (ridha Allah, ayat 21). Ayat di atas memberi isyarat bahwa yang melakukan persiapan di waktu fajar, bekerja di waktu pagi dan menggunakannya dengan baik maka dia akan menjadi orang yang beruntung dan di akhir hidupnya akan memperoleh puncak kebahagiaan. Jika dia tidur, maka dia akan tidur dengan pulas dan bahagia. Jika dia mati, dia akan mati dengan penuh ketenagan dan kebahagiaan.

Sebaliknya, orang yang tidak melakukan persiapan di waktu fajar, tidak bekerja di waktu pagi dan tidak menggunakannya dengan baik, dia akan menjadi makhluk yang tidak berguna, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Di hari tua, dia akan menyesal dan merugi serta akan meratapi diri sendiri. Di waktu malam datang, dia akan berada dalam kesulitan hidup, bahkan untuk tidurpun teramat susah baginya. Jika dia mati, maka dia akan berada pada puncak penyesalan. Waktu bagaikan pedang; jika digunakan dengan baik akan mampu mengangkat manusia ke derajat terhormat, jika tidak digunakan dengan baik maka akan menistakan manusia pada kehinaan.

Waktu terasa cerah dan panjang bagi yang bangun sejak fajar dan terasa pendek dan sesak bagi yang bangun siang siang hari. Awal waktu yang baik biasanya akan berjalan dengan baik dan berakhir dengan sukses. Awalilah tahun 2016 dengan kebaikan, buatlah resolusi tahunan untuk dicapai agar menjalaninya dengan terarah menuju kesuksesan dan berakhir dengan kebahagiaan.

Semoga kita senantiasa diberikan kemauan yang kuat dan kemampuan oleh Allah untuk melakukan muhâsabah (introspeksi) dan tafakkur (refleksi) atas apa yang telah kita perbuat pada tahun 2015 dan untuk melakukan resolusi (taqrîr) atas apa yang akan kita perbuat pada tahun 2016 sehingga kita menjadi insan berbahagia dan sejahtera, baik di dunia maupun di akhirat . Âmîn, Yâ Mujîb al-Sâ‛ilîn.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ()  وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِما فيه من الآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ ()وتقبل منى ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم () أقول قولى هذا وأستغفر الله العظيم لى ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم ()

 

Dikutip dari khutbah Jumat 1 Januari 2016

oleh : Ust. DR. Asmawi, M.H

Komentar

komentar

Please follow and like us:

Leave a Comment