Tabligh Akbar dan Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1437 H Masjid Nurul Hidayah Kalibata

HADIRILAH!!!
PERINGATAN ISRA MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1437 H

“Menjadikan Isra Mi’raj Nabi sebagai Moment untuk Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan”

Tabligh Akbar dan Peringatan Isra' Mi'raj 1437 H Masjid Jami' Nurul Hidayah Kalibata
Tabligh Akbar dan Peringatan Isra’ Mi’raj 1437 H Masjid Jami’ Nurul Hidayah Kalibata

Oleh Remaja Islam Masjid Nurul Hidayah Kalibata yang Insya Allah akan di selenggarakan pada :

Hari:

Sabtu Malam Minggu

30 April        2016 M

27 Rajab      1437 H

19.30 WIB (Ba’da Sholat Isya Berjama’ah)

Tempat : 

Masjid Nurul  Hidayah

Jl. Warung Jati Timur Rt. 007/04 No. 25A

Kel. Kalibata Kec. Pancoran Jakarta Selatan

Penceramah :

Al-Habib Ahmad Bin Novel Bin Jindan

KH. Sofwan Nidzomi

Untuk itu kami atas nama panitia mengundang para kaum muslimin untuk dapat ikut menghadiri dan mensyiarkan peringatan Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW 1437 H di Masjid Jami’ Nurul Hidayah Kalibata.

 

Profil Singkat Penceramah :


KH. Drs. Sofwan Nizhomi, MA


KH Sofwan

Sosok  KH. Drs. Sofwan Nizhomi, M.Ag  memang masih agak asing dengan telinga masyarakat  Cilandak Timur. Akan tetapi  untuk lingkungan  Pondok  Pinang, Pondok Indah dan sekitar kebayoran lama, nama ini sangat di segani. Menjadi  murid utama (alm) KH  Syafii  Hazfdami  bertahun tahun  rupanya  benar benar membawa   keberkahan yang luar biasa baginya.  Dan integritas keilmuannya  juga  demikian.  Pada  2 kesempatan, di Mushalla Baitun naim dan Masjid  arrohmah  beliau  mengungkap  2 tema  yang berbeda.  Saat  di  Mushalla  Baitun Naim, Beliau  lebih  menekankan pada “perlunya  Umat islam  menghormati  orang – orang sholaeh  dan dapat  di  jadikan wasilah“. Ilustsrai  beliau.  Lain halnya  di  Masjid  Arrohmah,  Beliau  dengan  bahasa arab  yang sangat  faseh, mengungkapkan  tentang : Sangat  Perlunya  mengantisisfasi munculnya  radio radio  dakwah yang  membawa  pemikiran islam,  menurutnya,   mereka yang  berdakwah melalui media  radio  misalnya,  dalam berdakwah belum masuk pada substansi  tiga  hal  utama  dalam Islam, yaitu : Islam, Iman, dan Ihsan. Yang mereka lakukan   hanya  bersifat  Iman, dan islam tetapi  hal ihsan sangat  di tinggalkan.  Jadi akhlaknya sangat  buruk.

Dalam tatanan sejarah sosio antropologis Islam, Muhammad SAW dapat dilihat dan dipahami dalam dua dimensi sosial yang berbeda dan saling melengkapi.

Sumber : http://albarkahjp.blogspot.co.id


Al-Habib Ahmad Bin Novel Bin Salim Bin Jindan


Habib Ahmad

Profile Al-Habib Ahmad Bin Novel Bin Salim Bin Jindan

Habib Ahmad lahir di Jakarta dan dididik dengan ketat di lingkungan agama sejak kecil oleh keluarganya. Pertama dididik oleh ayahnya sendiri, Habib Novel, yang mendirikan Pondok Pesantren Al-Fachriyah. Kemudian di madrasah ibtidaiah dan sanawiah di Jakata dan kemudian melanjutkan ke Pesantren Darul Mustafa, Tarim, Hadramaut, selama empat tahun. Pada tahun 2000 pulang ke Jakarta, kemudian menikah. Pernikahannya itu menghasilkan dua anak laki-laki, Salim, 3 tahun, dan Utsman, 1,5 tahun.

Sehari-hari, Habib Ahmad mengajar para santri di Pondok Pesantren Al-Fachriyah dan juga menjadi manajer koperasi di tempat itu juga. Di luar pondok, ia membina beberapa majelis taklim. Pada Sabtu sore di Otista, tempat almarhum Habib Salim bin Jindan, kakeknya. Malam Sabtu di Majelis Taklim Jasatul Mustafa. Malam Senin di Perumahan Ciledug Indah Tangerang. Malam Kamis di Pondok Kacang.

Dalam majelis taklim tersebut, Habib Ahmad mengajak hadirin untuk bersama membaca Ratib Hadad, kemudian pengajian dengan membaca kitab-kitab kecil Habib Abdullah Hadad serta kitab Ihya’ Ulumuddin, karya Imam al-Ghazali. Setelah itu dilanjutkan dengan tanya jawab bagi mereka yang memiliki persoalan tertentu.

Dari perjalanan dakwahnya, para habib melihat dan menyimak kealimannya, sehingga sekarang ia mulai tampil di muka umum di kalangan habaib. Seperti, ia diminta secara mendadak memberikan mauizah hasanah dalam Khataman Bukhari di Masjid Riyadh, Solo, yang diselenggarakan Habib Anis Alhabsyi. Kemudian, di acara-acara para habib, ia ditempatkan di lingkaran dalam para habib sepuh.

“Saya sebetulnya belum patut bicara di hadapan para habib sepuh, tetapi karena diminta ya jadi terpaksa. Sebab, sulit rasanya menolak permintaan para sesepuh,” katanya. Ia mewanti-wanti supaya dirinya tidak disejajarkan dengan para habib sepuh. Sebab dia merasa, ilmunya masih rendah. Di samping itu, ada sosok yang dihormatinya dan lebih patut menempati tempat terhormat itu, yaitu kakaknya, Habib Jindan.

sumber : https://pecintahabibana.wordpress.com

Komentar

komentar

Please follow and like us:

Leave a Comment