ZAKAT FITRAH SELAIN DENGAN BERAS/MAKANAN POKOK BOLEHKAH DENGAN UANG?

Zakat Fitrah/Fitri merupakan kewajiban bagi manusia yang menjalankan puasa ramadhan. Dikatakan “Fitrah” bermakna “Khilqah” yaitu asal kejadian/penciptaan maka zakat fitrah juga bisa dikatakan sebagai “zakat badan”.

Sebagaimana Hadits Rasulallah SAW.:

“Zakat fitri itu merupakan pensucian bagi orang yang berpuasa dari sifat hina. dan juga merupakan pemberian makanan pokok untuk orang fakir dan miskin”. hadits riwayat abu daud dan ibnu Majah.

Zakat fitri juga merupakan syarat untuk sampainya pahala puasa di sisi Allah SWT sbagaimana Sabda Rasulallah SAW:

“Pahala puasa Ramadhan terkatung katung diantara langit dan bumi tidak akan diterima kecuali ia telah menunaikan zakat fitri”

Siapa vang terkena kewajiban membayar zakat fitri?

yaitu semua orang muslim yang mengalami dua bagian dari bulan Ramadhan dan bulan Syawal walaupun seseorang lahir pada akhir bulan ramadhan lalu dia meninggal jam 18.10 WIB pada malam satu syawal setelah maghrib maka ia sudah berkewajiban membayar zakat sebab ia telah mengalami dua bagian bulan yaitu akhir bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal

Kapan zakat fitri itu harus dibagikan kepada vanq berhak?

Ada lima waktu dalam mengeluarkan zakat fitri

  1. Waktu Wajib Yaitu dimulai dari awal ramadhan sampai terbenamnya matahari pada tanggal satu bulan syawal.
  2. Waktu Fadilah/yang diutamakan yaitu setelah terbit fajar dan sebelum sholat ied dan yang lebih afdhol lagi dimulai setelah sholat shubuh
  3. Waktu yang diperbolahkan yaitu dimulai dari awal Ramadhan
  4. Waktu yang dimakruhkan yaitu mengakhirkan pembagian zakat mulai dari selesainya sholat ied sampai terbenamnya matahari atau waktu maghrib kecuali adanya alasan yang tepat (mashlahah) seperti menunggu kerabat atau orang fakier yang sholih.
  5. Waktu yang diharamkan yaitu pembagiannya bersamaan dengan berakhirnya hari ied. kecuali adanya udzur seperti harta yang belum tiba atau belum ditemukannya mustahiq maka yang demikian ini terhitung qodo’

Bolehkah mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang..??

Dalam hal ini ulama berbeda pendapat,

Pendapat Pertama : Mutlak tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Abi Daud.

Alasannya adalah bahwa zakat adalah ibadah mahdlah yang ketentuannya telah dipastikan oleh Allah melalui Rasullallah SAW dan sudah pasti tidak boleh menyelisihinya.

Diriwayatkan dari Sahabat Abi Said al-Khudry RA. ia berkata

“Kami mengeluarkan/Menunaikan zakatfitrah pada hari raya iedul fitri dengan satu sha’ bahan makanan pokok, matan hadits “Shooan min Tho’amin” yaitu satu sho’ bahan makanan pokok sebagai ketentuan harus dengan makanan pokok.

An-Nawawi menyatakan

“aku sepakat dengan perkataan Imam as-Syafi’ie bahwa tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan nilai.

Abu Dawud mengatakan

“Aku mendengar Imam Ahmad ditanya: “bolehkah saya memberi dirham yakni dalam zakat fitri”? beliau menjawab ‘Aku khawatir tidak sah, sebab telah menyelisihi Rasulallah SAW..

Ibnu Qutadah menyatakan

Imam Ahmad melarang mengeluarkan zakatfitrah dengan uang. (Fatawa Ramadhan 2/918-928)

Pendapat ini pula yang dipilih oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin dan asy-Syaikh Sholih al-Fauzan.

Syaikh Zainuddin Almalibary menyatakan

” Tidak Syah mengeluarkan Zakat fitrah dengan uang juga dengan makan pokok yang cacat, basah atau yang terdapat/termakan kutu.

Pendapat Kedua: Boleh mengeluarkan dalam bentuk uang yang senilai dengan zakat fitrah yang dikeluarkan. Ini adalah pendapat /mamAbuHanifah.

Pendapat Imam Abu Hanifah ini diikuti oleh Ibnu Taimiyah yang menyatakan ” boleh mengganti zakat fitrah dengan uang dengan syarat bila terdapat maslahat bagi orang-orang fakir dan mempermudah bagi orang-orang kaya. beliau juga menyatakan mengganti dengan uang tanpa ada kebutuhan dan maslahat maka tidak diperbolehkan, Karena jika diperbolehkan mengeluarkan uang secara mutlak, maka bisa jadi si muzakki akan mencari cari jenis makanan pokok yang termurah.

“Pendapat Pertama Yang Lebih Kuat”

Sementara di indonesia pada umumnya menganut faham mazhab Syafi’ie yang sudah jelas jelas tidak membolehkan mengganti zakat fitrah dengan uang.

Namun tidak dipungkiri bahwa sudah banyak masyarakat disekitar kita yang membayar zakat fitrah dengan menggunakan uang terutama di lembaga-lembaga seperti di perkantoran dan dunia pendidikan mulai dari jenjang TK sampai Perguruan Tinggi.

Maka agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pengamalan syariat dan pemahaman mazhab (talfiq) maka ulama mengkompromikan kedua pendapat tersebut. Jika ingin menggunakan uang sebagai pengganti makanan pokok untuk membayar zakat fitrah karena alasan maslahat maka harus menyamai harga nilai ukuran kilo gram kepada mazhab yang membolehkannya yaitu mazhab Hanafi dengan ukuran berat 3,5 kg dan bukan dengan memakai nilai harga ukuran 2,7 kg sebab ukuran 2,7 kg adalah pendapat imam Syafi’ie yang tidak membolehkan zakat fitrah diganti dengan uang.

Jadi jika harga beras 1 kg Rp. 10.000 maka 3,5 kg menjadi Rp. 35.000 maka uang pengganti zakat seharga Rp. 35.000. Jika ditimbang dengan ukuran liter maka:

3,5 kg = 4,4 liter disempurnkan menjadi 4,5 liter bahkan ada yang menyempurnakan menjadi 5 liter.
2,7 kg = 3,4 liter disempurnakan menjadi 3,5 liter.

Dan kualitas makanan pokok (beras) yang akan dikeluarkan zakat minimal adalah kualitas yang biasa dijadikan konsumsi sehari-hari.

Akan lebih selamat bila kita tunduk kepada syar’ie yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan dipegang kuat oleh Ulama ulama fuqaha yang Muhaqqiqin yaitu dengan mengeluarkan zakat fitrah menggunakan makanan pokok (beras) dan masalah mengganti uang biarlah itu menjadi hak mustahiq andai ia membutuhkan uang dengan menjual beras zakat fitrah yang telah ia terima dan kewajiban kita sebagai muzakki hanya memberikan beras sebagi zakat firah dan bukan uang.

Demikianlah semoga manfaat untuk kita semua.. Amin – Wallahu A’lam Bisshawab.

oleh : Ust. Muchlis As’ad, S.Ag

Referensi :

  1. I’anatuttholibin lissayyid al-Bakry bin as-Sayyid Muhammad Syatho ad-Dimyathi al-Mishry
  2. at-Taqriroh as-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah Zain ibn Ibrahim ibn Zain ibn Sumaith.
  3. Fathul Muin Zainuddin ibn Abdul Aziz al-Malibary al-Panany
  4. Bahjatul Wasail as-Syaikh an-Nawawi al-Bantani

Komentar

komentar

Please follow and like us:

Leave a Comment